Rencana vs Rencana
Mentari masih tertidur di balik
peraduannya, namun seorang bocah sudah terjaga dari tidurnya, segera ia
mengambil air wudhu dan bergegas melaksanakan shalat tahajud. Bocah itu adalah
Arif, sudah termasuk kebiasaannya untuk bangun malam dan menunaikan shalat
tahajud. Lihatlah, dari bola matanya berjatuhan tetes air. Ingatannya kembali
menerjang tentang kejadian di madrasah kemarin siang.
***
“Assalamu’alaikum,
anak-anak,” suara lembut Bu Farah mengalun merdu di kelas VIII-J.
“Wa’alaikumsalam,
Bu,” sahut beberapa anak yang mendengar ucapan salam itu, sedangkan yang lain
masih asyik melanjutkan obrolannya dengan teman sebangkunya.
Ya,
Bu Farah adalah seorang guru Tahfidzul Qur’an di
madrasah Arif. Sejak dulu memang, jarang siswa siswi madrasah ini yang berminat
untuk mempelajari Tahfidzul Qur’an. Setelah mengucapkan salam, seperti
biasanya, ia hanya duduk dan menunggu sampai ada murid yang maju untuk menyetor
hafalannya. Lima menit, sepuluh menit, bahkan sampai lima belas menit berlalu,
belum ada satupun anak yang maju untuk menyetorkan hafalannya.
“Rasti,
ayo sini maju, hafalanmu masih kurang banyak lho, nggak apa apa, sebisanya
saja,” kata Bu Farah dengan sangat lembut.
“Lah,
Bu, besok saja lah, saya baru hafal lima ayat, tanggung, Bu,” sahut Rasti lalu
melanjutkan obrolannya dengan Harfi.
Bu
Farah hanya diam, tak bereaksi apapun, dan akhirnya ia membulatkan
keputusannya. Bergegas Bu Farah membereskan buku-bukunya yang ada di meja,
kemudian berdiri.
“Ya
sudah anak-anak, bila hari ini belum ada yang siap untuk hafalan, lebih baik
ibu keluar saja, ya. Assalamu’alaikum !,” kata Bu Farah dan langsung pergi
meninggalkan ruang kelas VIII-J. Anak-anak saling bertatapan bingung, terlebih
lagi Arif, murid kesayangan Bu Farah.
“Tak
biasanya Bu Farah berlaku seperti ini,” batin Arif di lubuk hatinya.
Sudah
sejak dulu memang, hanya ada satu dua anak yang menyetor hafalan pada setiap
pelajaran Tahfidzul Qur’an, dan hal itu memang sudah biasa.
Terlebih lagi kelas VIII-J, hanya Arif saja yang rajin untuk menyetor
hafalannya. Sayangnya, tadi malam ia lupa jika hari ini ada pelajaran tahfidz.
***
Batin
Arif masih saja menangis mengingat kejadian itu. Untuk pertama kalinya ia
melihat seorang guru keluar dari kelasnya sebelum jam pelajaran usai tanpa ada
alasan untuk suatu kepentingan yang jelas. Sebuah ide terlintas di benak Arif,
dan sebuah senyum tersungging di bibir mungilnya.
Sesampainya
di madrasah, ia langsung menjalankan rencana yang telah dipikirkannya di rumah
tadi.
“Teman-teman,
bagaimana jika kita minta maaf saja kepada Bu Farah atas kejadian kemarin,
sepertinya kita telah membuat beliau bersedih, bahkan sampai beliau keluar dari
kelas sebelum jam pelajaran selesai, kan,”usul Arif
“Buat
apa sih?, memangnya kita salah apa, lagipula Bu Farah keluar kan karena
keinginannya sendiri!,”sanggah Doni, si ketua kelas disertai anggukan anak-anak
yang lain.
“Memangnya
kalian semua nggak sadar, gimana Bu Farah nggak sedih, setiap ia ke kelas ini,
jarang anak yang maju untuk hafalan, coba kalian bayangkan, jika kalian nggak
diperhatikan oleh orangtua kalian, atau teman kalian, kalian pasti merasa
sangat sedih, bukan?,” sahut Arif dengan nada sedih.
Anak-anak
kelas VIII-J hanya diam terpaku, mereka kemudian sadar atas kesalahan mereka
terhadap Bu Farah. Hening, tak ada lagi suara apapun, semuanya sibuk merenung.
“Assalamu’alaikum,
anak-anak kelas VIII-J, ini ada sebuah surat untuk kalian,”suara Pak Jono, guru
BK memecah keheningan kelas.
“Terima
kasih, Pak,” jawab Doni sambil menerima surat itu
“Cepat
dibaca dong, Don!,”sahut anak-anak ramai.
Untuk anak-anakku tersayang kelas VIII-J
Anakku, ibu minta
maaf, jika selama ini ibu kurang tegas dalam menghadapi kalian semua, terlebih
kemarin ketika ibu hanya meninggalkan kalian sebelum jam pelajaran usai. Ibu
sangat ingin melihat kalian berdiri gagah sebagai seorang hafidz dan hafidzoh
qur’an. Pesan ibu, sayangilah Al-Qur’an, karena di
hari kiamat nanti ia juga akan memberikan kemudahan bagi para penghafalnya.
Bu
Farah
Suasana hening dan mencekam mulai menggema di ruang kelas VIII-J, ya batin mereka menangis tanpa terkecuali. Mereka tersadar pada diri mereka sendiri untuk
lebih rajin dalam menghafal Al-Qur’an. Surat itu telah membuat
semangat mereka berkobar untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.
Arif hanya bisa tertegun, rencananya
gagal. Ternyata, Bu Farah punya rencana yang lebih besar.
***
Komentar
Posting Komentar